Filsafat

Tuhan dalam Bayang-Bayang yang Lain: Ulasan Emmanuel Levinas tentang Peran Tuhan Dalam Hidup Manusia

Emmanuel Levinas adalah seorang filsuf tersohor yang mengkonsentrasikan horizon pemikirannya di bidang etika. Karya-karya filosofisnya senantiasa bernada etis, karenanya bergerak dalam relasi antar manusia. Filsuf yang lahir pada tahun 1912 di Lithuania itu mempunyai keprihatinan yang radikal dan mendalam terhadap sesama manusia yang dilihatnya sebagai bagian integral dari dirinya. Situasi Perang Dunia II di bawah kediktatoran Nazi yang memusnahkan manusia dalam jumlah yang besar, telah menginspirasi pemikiran etis Levinas yang hidup pada saat itu. Situasi Perang Dunia II telah menghantar pandangan Levinas terhadap manusia sebagai pribadi-pribadi yang patut dihargai dan dilindungi, bahkan dalam situasi terbatas, kita dituntut untuk mengambil alih penderitaan sesama kita, atau dalam terminologi Levinas disebut sebagai “yang lain”. 

Radikalitas uraian filosofis Levinas tentang relasi etis antar-manusia banyak menuai kesan religius. Para pembaca karya Levinas berpikir bahwa uraian filosofis tersebut didasari oleh keyakinan religius (Yahudi) yang kuat mempengaruhinya. Pikiran pembaca tersebut tentu amat beralasan, karena pendasaran etis dalam relasi antar-manusia yang dikemukakannya tidak dapat diterima begitu saja oleh akal budi manusia. Etika radikal yang diurai oleh Levinas bahkan mesti ditopang oleh keyakinan metafisis yang menjadikannya reasonable. Namun, dalam buku Postmodern Apologetics: Arguments for God in Contemporary Philosophy, yang ditulis Christina M. Gschwandtner ditegaskan bahwa Levinas selalu bersikeras bahwa uraian filosofisnya tidak didasari dan didorong oleh keyakinan religiusnya: 

“Levinas always insisted that his religious commitments and his philosophical thought were separate and had little to do with each other, especially in the face of various claims that his philosophy was but a veiled religious project and despite the fact that his philosophy is indeed sprinkled liberally with religious terminology and imagery. This chapter seeks to show that Levinas was right to deny that his philosophy was merely an invitation to Jewish (or Christian) faith. In fact, it argues that Levinas makes every attempt in his philosophy to “secularize” his faith and to appropriate any religious insight for purely philosophical purposes and ends”.

Dari penjelasan buku tersebut nampak ada upaya sekularisasi iman atau keyakinan yang dimiliki oleh Levinas dengan mencari dasar-dasar filosofisnya. Dasar filosofis dari etika radikal yang dikemukakan Levinas amat dipengaruhi oleh pemikiran Descartes. Pengaruh pemikiran Descartes tentang totalitas individu atas objek atau subjek lain di luar dirinya telah menginspirasi Levinas untuk mengusung term infinity (yang tak berhingga). Dalam konteks pemikiran Levinas, infinity adalah realitas di luar diri manusia atau subjek lain di luar individu yang tidak dapat dikuasai oleh totalitas individu; dengan kata lain infinity adalah juga “yang lain” dalam terminologi Levinas. Dengan adanya term infinity (yang tak berhingga) ini totalitas diri individu pun dihancurkan. 

Menurut Lubis, sebagaimana dikutip oleh Wikipedia Bahasa Indonesia, “yang tak berhingga” (infinity) itu adalah sesama manusia yang tadinya berperan sebagai orang asing bagi individu. Justru di sinilah letak permulaan konsep etika radikal Levinas dikembangkan. Totalitas individu yang hancur karena adanya realitas di luar dirinya (sesama individu) dimungkinkan oleh keharusannya berhubungan dengan sesamanya atau manusia lain. Hal inilah yang membuat manusia memiliki kewajiban etis terhadap sesamanya, dan kewajiban itu bersifat asimetris (tanpa pamrih). Kewajiban etis yang bersifat asimetris itu bahkan menjadi lebih radikal dengan upaya “substitusi”.

Infinity (yang tak berhingga) dalam terminologi Levinas amat berhubungan dengan fenomenologi Husserl. Fenomenologi yang dimaksud adalah yang nampak dalam perjumpaan antara manusia yang nyata sekaligus membawa nilai-nilai yang tak kasat mata. Pertemuan dengan manusia lain itu adalah pengalaman dasariah yang mampu menyadarkan kita secara langsung bahwa manusia memiliki tanggung jawab dan totalitas atas keselamatan orang lain itu. Langsung dalam arti bahwa tanggung jawab itu membebani kita mendahului komunikasi eksplisit dengan orang lain itu. Oleh karena itu, pengalaman dasar itu bersifat etis.

Namun dalam keadaan tertentu, Levinas mengkritik fenomenologi Husserl yang dianggap sebagai puncak filsafat Barat. Menurut Levinas, fenomenologi Husserl terlalu terobsesi dengan realitas yang nampak dan kelihatan, yang menghantar manusia pada pengetahuan dan pengertian. Hal inilah yang dikritik Levinas: “Levinas argues that the major problem in Western philosophy is that it has closed off all access to the other and instead reduces all difference to sameness. Even phenomenology, although it emphasizes the essential relationship between consciousness and the objects of consciousness…” Menurut Levinas, pengertian atau pengetahuan itu sendiri tidak cukup diperoleh melalui apa yang nampak, atau kelihatan, tetapi melampaui realitas yang nampak atau kelihatan itu sendiri; dalam terminologi Levinas disebut dengan “beyond being”. Selain itu, menurutnya keyakinan fenomenologi Husserl tersebut justru mereduksi realitas di luar individu dalam apa yang nampak atau kelihatan. 

Terlepas dari pendasaran filosofis atas radikalitas kewajiban etis yang dikemukakan Levinas, kesan religius atasnya justru menarik perhatian penulis untuk menelisik lebih jauh pandangan Levinas tentang Tuhan. Dalam hal ini, penulis tidak hanya tertarik untuk mengetahui apakah Levinas sendiri adalah seorang beragama, tetapi juga tertarik untuk mengetahui pandangan Levinas tentang Tuhan, perannya dalam hidup manusia, atau juga posisi Tuhan dalam filsafat etika Levinas. Pertanyaan besar yang hendak dijawab adalah apakah Tuhan memiliki peran dalam filsafat etika Levinas yang menempatkan “yang lain” di atas totalitas individu (the other is infinitely above me and prior to me)?

Terminologi Tuhan dalam Kacamata Levinas

Penyangkalan Levinas terhadap kesan religius atas radikalitas filsafat etikanya secara eksplisit menegaskan bahwa filsafatnya terpisah jauh dari keyakinannya, atau berlainan sama sekali. Justru dalam filsafat etikanya, Levinas bersikeras untuk menghindari penggunaan term Tuhan. Baginya Tuhan atau entitas Ilahi tidak dapat menjadi partner relasi individu atau manusia karena ia adalah entitas yang tidak nampak atau kelihatan. Dengan kata lain, Tuhan atau entitas Ilahi itu tidak memanifestasikan dirinya. Oleh karena itu, menurut Levinas pun manusia tidak dapat mengklaim dirinya memiliki keyakinan terhadap Tuhan atau beriman kepada Tuhan, sebab kita tidak memiliki akses langsung terhadapnya. Dalam bukunya, Christina M. Gschwandtner, yang berjudul Postmodern Apologetics? Arguments for God in Contemporary Philosophy, ditulis: 

“First of all, Levinas is quite clear that we cannot have direct access to God. In fact he does not even seem to think that we can have something like ‘faith in’ God. One cannot say ‘I believe in God’ because the divine cannot become the subject of a proposition or thesis. Acting in ‘the name of God’ is not about believing in God.”

Penggunaan term Tuhan menurut Levinas nampaknya menimbulkan kesan bagi penulis bahwa ia sendiri sesungguhnya tidak beriman kepada Tuhan atau dengan rumusan lain ia tidak memiliki keyakinan akan Tuhan. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Levinas sendiri tidak menggunakan term Tuhan dalam pemikiran filosofisnya, khususnya pemikirannya tentang etika. Dalam filsafat etikanya, atau biasa disebut juga filsafat wajah, Levinas menggunakan term Tuhan dalam hubungannya dengan “yang lain”, yakni orang asing di luar individu atau dalam filsafat wajah Levinas biasa dikonkretkan dengan janda, yatim piatu, kaum cacat, dan lain-lain yang menderita. Baginya penggunan term Tuhan hanya untuk melayani proyek filsafatnya dalam hubungan dengan “yang lain”. Sekali lagi, Christina M. Gschwandtner menulis: “God is not a term that invites belief but a word that directs us to the other. We do not believe in God or have relationship or dialogue with the divine. Rather, the Infinite always directs us toward the human other and places us in service to the other.”

Selain uraian di atas, menurut saya uraian Christina tentang penggunaan term Tuhan oleh Levinas dalam hubungan dengan “yang lain” hendak menggambarkan bahwa sesungguhnya term Tuhan memang hanya dipakai dalam relasi kita dengan “yang lain” atau sesama manusia. Dalam rumusan lain, penggunaan term Tuhan amat membantu dalam upaya mewujudkan relasi etis di antara individu-individu. Dalam hal ini, penggunaan term Tuhan memiliki implikasi etis dalam relasi manusia dengan sesamanya (the other). Dalam kacamata Levinas, term Tuhan justru digunakan karena senantiasa berhubungan dengan manusia, secara langsung dengan relasi antar-sesamanya. Dalam ungkapan yang lebih ekstrem, term Tuhan ada karena manusia, maka Tuhan ada untuk manusia, serta relasinya antar-sesamanya. Oleh karena term Tuhan dalam dirinya senantiasa bersifat etis, Ia (Tuhan) pun amat berhubungan dengan manusia dalam relasinya dengan sesamanya (the other). Dalam buku yang sama, Christina pun menulis: 

“God only makes sense, only is given meaning in my relation to the other, my response to the other and openness to the neighbor. I never meet God but only the other person… God is not the one toward whom I am turned or whom I should aim to reach, but rather I express the Infinite in my concern for the neighbor, in my complete self-sacrifice… All God-talk is ultimately about ethics, leads me toward the suffering neighbor for whom I am responsible.”

Hakikat Tuhan: Absolutely Absent

Dari uraian sebelumnya, nampaknya Levinas telah mempertegas pandangannya bahwa term Tuhan digunakan dalam hubungannya dengan “yang lain” (the other). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan berada dalam bayang-bayang “yang lain”. Nampaknya, penggunaan term Tuhan amat filosofis dalam pemikirannya tentang etika yang radikal itu. Pendasarannya amat jelas, bahwa term Tuhan dalam dirinya senantiasa bersifat etis, selalu berhubungan dengan manusia dan relasinya dengan sesamanya, dan bahwa Tuhan tidak dapat nyata dan memanifestasikan dirinya sendiri; karenanya manusia tidak dapat menjalin relasi dengan Tuhan secara langsung apalagi untuk menyatakan diri beriman kepada Tuhan.

Menurut Levinas, Tuhan atau entitas Ilahi yang tidak dapat digapai dan termanifestasi, disebabkan oleh karena ia sudah berada di seberang (beyond being). Tuhan atau entitas Ilahi itu berada melampaui realitas ada (being) sehingga menjadi sesuatu yang transenden. Kenyataan inilah yang menyebabkan manusia hanya mampu menggapai jejak-jejak entitas Ilahi itu; dalam terminologi Levinas jejak-jejak itu disebut enigma.  Tuhan atau entitas Ilahi itu, dengan demikian tidak berada dalam realitas hidup manusia. Dalam rumusan lain, Tuhan sesungguhnya absolutely absent dalam realitas hidup manusia. 

Namun, hal penting yang perlu dipertegas oleh Levinas adalah bahwa term Tuhan adalah jejak dari “yang tak berhingga”. Levinas sendiri nampaknya sering menggunakan term infinity atau illeity (orang ketiga tunggal dalam bahasa Perancis), daripada menggunakan term Tuhan. Term Tuhan hanyalah term yang digunakan untuk memanifestasi “yang tak berhingga” itu. Namun Tuhan itu sendiri tetap bukanlah entitas nyata yang memampukan manusia berelasi langsung dengannya. Kenyataan inilah yang menyebabkan Tuhan tetap absolutely absent dalam hidup manusia. Oleh karena Tuhan dalam dirinya senantiasa berhubungan dengan manusia, maka kita hanya bisa menggapainya melalui sesama manusia. Relasi etis dengan “yang lain” adalah jalan menuju jejak itu, yakni Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, sebagaimana dengan penjelasan paragraf sebelumnya, relasi etis itu sendiri adalah jejak atau enigma dari Tuhan itu. Pemikiran Levinas ini digambarkan dengan sangat baik oleh Christina: 

“God is the ‘trace of illeity’ what has always already passed and cannot be identified. The divine has only left a trace and we are always too late… Direct relationship between God and the self is not possible. Levinas goes out of his way to emphasize the obscurity of this trace and speaks of is as the absolutely Absent. No relation or signification is possible… To be in the image of God for Levinas implies to stand ‘in the trace of the divine.’ One cannot pursue the trace toward God, but must walk toward the others who are held in this trace.”

Penulis pun berpikir bahwa term Tuhan diadakan dalam karya filsafat Levinas, karena term Tuhan itu sendiri sudah ada sebelum pemikiran Levinas itu sendiri. Oleh karena itu, Levinas tidak sepenuhnya berusaha menafikan atau menghilangkan term Tuhan di dunia, tetapi ia berusaha agar term Tuhan yang sudah ada sebelumnya bermanfaat bagi pemikirannya. Dengan kata lain, pendasaran filosofis utama pemikiran Levinas tentang kewajiban etis dalam berelasi dengan “yang lain” tetaplah pada konsep infinity dan pandangannya dalam fenomenologi.    

Tuhan Sebagai Entitas yang Tidak Dapat Direduksi

Pada uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa Levinas memanfaatkan term Tuhan bagi pemikiran filosofisnya tentang kewajiban etis terhadap “yang lain”. Dalam hal ini, meski ia menyangkal kebenaran kesan religius pembaca terhadap pemikirannya, tetapi ia tidak sepenuhnya menghindari penggunaan term Tuhan atau entitas Ilahi dalam pemikirannya. Keunggulan lain yang diperoleh Levinas dalam penggunaan term Tuhan dalam pemikirannya adalah bahwa Tuhan dalam dirinya sendiri tidak dapat direduksi (irreducible). Levinas dalam hal ini amat mengakui akan adanya penyimpangan etis dalam relasi manusia dengan “yang lain”. Ia tidak menafikan adanya kenyataan destruktif dalam relasi manusia dengan “yang lain”.  Ia mengakui bahwa pada kenyataanya, manusia bisa menyangkal kewajiban etisnya dalam berelasi dengan “yang lain”, misalnya adanya pembunuhan, ketidakpedulian terhadap sesama yang lain, penolakan terhadap permintaan pertolongan oleh “yang lain”, dan bahkan lebih mementingkan kebutuhan atau prioritas pribadi. 

Menurut Levinas, Tuhan justru memiliki kekebalan terhadap semua kemungkinan destruktif itu. Esensi Tuhan sebagai entitas transenden yang melampaui ada (being) telah membuatnya tidak mampu direduksi oleh tindakan desruktif apa pun; sebab manusia itu sendiri tidak mampu berelasi secara langsung dengan Tuhan (ia tidak termanifestasi). Bagi Levinas, Tuhan adalah “yang lain” di belakang “yang lain”, yang selalu membebani dan mengingatkan tanggung jawabku terhadap yang lain. Dalam bukunya, Christina menulis:

“God is employed by Levinas as a term for the most extreme otherness, which is so absolutely different that it remains irreducible. This irreducibility is able to hold open the alterity of the other. The name of God in Levinas functions as the only word that cannot be reduced, that always escapes our grasp and therefore as the only term that holds open infinite transcendence and utter alterity. I can reduce the other, can refuse to respond to the other’s call, can turn my back on the responsibility that I will always owe to the other. I can ignore the neighbor if I so desire, can live alone in my world appropriating all its goods for myself, can stay outside of ethics. Yet, while the face of the neighbor can be “reduced to the same” and can even be murdered, this is impossible to do with God. One cannot ever get enough of a grasp on God to hold the divine. Thus, God is the otherness behind the other that always reiterates my responsibility even as I try to evade or subvert it.”

Penutup

Ulasan filosofis Levinas tentang Tuhan, sesungguhnya murni untuk kepentingan filsafat etika. Levinas amat hati-hati menggunakan term Tuhan dalam filsafat etikanya tersebut. Ia berusaha keras untuk menghindari kesan religius pembaca tentang adanya pengaruh gagasan teologis dalam filsafat etikanya. Baginya, term Tuhan mampu memberi kontribusi positif terhadap pemikirannya tentang etika yang radikal itu. Levinas sendiri pun benar-benar menempatkan Tuhan dalam bayang-bayang “yang lain”.  Posisi “yang lain” dalam  pemikiran Levinas adalah yang utama dan menjadi prioritas. Menurut penulis, Levinas sesungguhnya murni peduli dengan kehidupan manusia; ia sendiri berupaya untuk menciptakan keharmonisan hidup manusia.

_________________
Apry Fernandez
Mahasiswa Program Studi Filsafat di STFK Ledalero-Maumere dan Anggota Centro John Paul Ritapiret
Penulis dapat dihubungi di media sosialnya, Facebook: Apry Fernandez / IG: apry_nandez

________________________________
Jika
kawan-kawan hendak mengirimkan tulisan untuk dimuat di bukuprogresif.com, silahkan lihat syarat dan ketentuan ini.

Untuk mendapatkan email secara otomatis dari kami jika ada tulisan terbaru di bukuprogresif.com, silahkan masukan email anda di bawah ini dan klik Subscribe/Berlangganan. Setelah itu, kami akan mengirimkan email ke anda (kadang terkirim di menu spam/update) dan silahkan buka dan konfirmasi.

Bergabung dengan 149 pelanggan lain

Related posts

Leave a Comment

× Ada yang bisa kami bantu?