Esai

Goenawan Mohamad vs Pram: Saya Bukan Mandela

Surat Terbuka untuk Pramoedya Ananta Toer* oleh: Goenawan Mohamad Seandainya ada Mandela di sini. Bung Pram, saya sering mengatakan itu, dan mungkin mulai membuat orang jemu. Tapi Mandela, di Afrika Selatan, menyelamatkan manusia dari abad ke-20. Tiap zaman punya gilanya sendiri. Abad ke-20 adalah zaman rencana besar dengan pembinasaan besar. Hitler membunuh jutaan Yahudi karena Jerman harus jadi awal Eropa yang bersih dari ras yang tak dikehendaki. Stalin dan Mao dan Pol Pot membinasakan sekian juta “kontrarevolusioner” karena sosialisme harus berdiri. Kemudian Orde Baru: rezim ini membersihkan sekian juta penduduk…

Read More
Esai

“Sepuluh Perintah kepada Penulis Muda” oleh Carlos Fuentes

Perintah Pertama: Disiplin Buku tidak menulis dirinya sendiri. Juga tidak digodok dalam komite. Menulis adalah aksi seorang diri yang kadang menakutkan. Seperti memasuki terowongan tanpa tahu adakah cahaya di ujungnya, atau bahkan apakah ujungnya itu memang ada. Aku ingat sewaktu muda menghabiskan banyak akhir pekan di Cuernavaca, sebuah kota tropis di Meksiko, bersama penulis Alfonso Reyes, yang oleh Borges dijuluki sebagai prosais berbahasa Spanyol terbaik sepanjang abad ke-20. Reyes berumur hampir tujuh puluh tahun, sementara aku baru tujuh belas, dan kadang aku pulang dari pesta-pesta pukul lima pagi dan melihat…

Read More
Esai

Menulis Sebagai Laku Pengharapan

Dalam setiap wawancara selama beberapa tahun belakangan ini kudapati adanya dua pertanyaan yang memaksaku merumuskan diri baik sebagai penulis maupun manusia: mengapa aku menulis? Dan, untuk siapa aku menulis? Malam ini akan kucoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada 1981, di Caracas, kupasang selembar kertas di mesin tik dan menulis kalimat pertama La casa de los espíritus (Rumah Arwah): “Barrabás tiba di keluarga kami lewat laut.” Pada waktu itu aku tak tahu mengapa aku melakukannya, atau untuk siapa. Malah aku mengira takkan ada orang yang bakal membacanya selain ibuku, yang membaca apa…

Read More