Resensi Buku

Membaca Rusia dan Kompleksitasnya dalam Revolusi Oktober 1917

Inilah revolusi yang membuktikan bahwa kelas buruh dan tani bukan hanya bisa menggulingkan pemerintah autokratik, tetapi juga bisa membentuk pemerintahan sendiri dalam rupa gambarnya. (hlm. 2)

Pengalaman kelam pada tahun 1905 yang berakhir dengan kegagalan, segera menyadarkan kaum buruh dan tani agar mempelajari kesalahannya—guna di kemudian hari tidak terulang kembali kegagalan tersebut. Keinginan mengatur ulang strategi dan taktik serta implementasi perjuangan, merestorasi pondasi yang sempat runtuh, membangun ulang arah juang pergerakan, dan mengokohkan teori revolusioner demi terciptanya sebuah gerakan yang juga revolusioner; mereka upayakan hal tersebut dengan semaksimal mungkin.  

Pemberontakan 1905 berakhir dengan kegagalan, meski ada konsesi-konsesi yang diberikan oleh Tsar, termasuk dibentuknya dewan perwakilan (Duma). Di India, gerakan Swadeshi saat itu—yang oleh Gandhi dinilai “sangat mirip dengan gerakan Rusia”—nyaris sepenuhnya dipadamkan. Namun bahkan gerakan Swadeshi, dengan pusatnya di Benggala, tidak bisa dihentikan dengan kekerasan oleh pihak Inggris karena ia berubah bentuk menjadi perjuangan yang lebih dalam dan lebih luas melawan kekuasaan Inggris, dengan meneruskan beberapa strategi yang sudah dipakainya (pemboikotan produk-produk Inggris, memprotes toko-toko yang menjual produk Inggris, dan konfrontasi terbuka dengan pihak Inggris). (hlm 28)

Setelah mengalami peristiwa kelam tersebut. Para buruh dan tani juga mengalami rangkaian degradasi dan demoralisasi. Ribuan aktivisnya dipenjara, dieksekusi, bahkan diasingkan karena upaya perlawanan yang mereka tujukan kepada pihak pemerintah. Tak lama setelah itu—gerakan buruh dan tani kembali bangkit. Mereka merasa tidak puas dengan langkah yang diambil oleh pemerintah. Mereka menuntut agar melakukan revolusi tahap lanjut—yang kita kenal dengan revolusi Februari dan Oktober. Para buruh dan tani menjadi lebih sadar akan peranan mereka sebagai suatu kelas yang memimpin seluruh rakyat tertindas, agar terbebas dari rantai penindasan yang selama ini mencengkram.

Buku-Buku tentang Revolusi di Rusia dapat dibeli DI SINI

Pada awal September 1917, saat para buruh dan tani menjalankan soviet-soviet mereka dan menerbitkan resolusi demi resolusi untuk pemerintahan mereka sendiri, Lenin menulis, “Pemberontakan adalah seni.” Dalam laporan jurnalistiknya yang bergelora, Ten Days that Shook the World (1919), John Reed menggambarkan energi kelas buruh dan tani. Pada Oktober, pecah revolusi Rusia kedua yang didorong oleh kaum Bolshevik. Kekuasaan direbut oleh soviet-soviet, yang membubarkan parlemen borjuis (Duma) dan mengangkat diri sebagai penata masyarakat mereka sendiri. Lenin pergi ke Soviet Petrograd untuk merayakan pengambilalihan kekuasaan ini. Apa makna penting revolusi ini, ia bertanya kepada kamerad-kamerad buruhnya. “Makna pentingnya adalah, pertama-tama, bahwa kita memiliki sebuah pemerintahan Soviet, organ kekuasaan kita sendiri, di mana kaum borjuis tidak akan punya andil sama sekali. Massa kaum tertindas akan membentuk kekuasaan mereka sendiri. Aparatus negara lama akan dikoyak sampai ke pondasinya dan sebuah aparatus administratif baru didirikan dalam bentuk organisasi-organisasi Soviet.” (hlm 23-24)

Kemudian, secara berangsur-angsur. Tibalah kabar tersebut, bahwa rakyat Rusia, yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh dan tani, telah menggulingkan rezim autokrasi paling berkuasa saat itu, yakni Imperium Tsar. Kabar mengenai kemenangan tersebut—25 Oktober 1917—telah menyebar ke seantero Rusia, dan secara lambat, juga menyusup ke telinga koloni-koloni Eropa pada era 1917-1918. 

Ada rasa tak percaya bahwa para lelaki dan perempuan yang kukunya kotor kena tanah dan badan didera mesin akan mampu bersama-sama merebut kekuasaan. Bagaimana itu mungkin? Ramalan tentang 1917 sudah ada sejak 1905 ketika bangsa Rusia mencoba melakukan revolusi massa besar mereka pertama melawan Tsar. Mohandas K. Gandhi mengamati pemberontakan 1905 dengan penuh kekaguman. Bangsa Rusia, tulisnya di Young India, sama patriotisnya seperti orang India, tetapi ia merasa bahwa tidak seperti bangsa India, orang Rusia sudi mengorbankan nyawa demi martabat. “Para buruh Rusia dan semua pesuruh lainnya mencanangkan pemogokan umum dan menghentikan semua pekerjaan.” tulis Gandhi (hlm 27)

Buku yang pertama kali terbit di India pada tahun 2017 ini, awalnya bertajuk “Red Star Over the Third World”, yang diterbitkan oleh Leftword Books, New Delhi. Kemudian, pada pertengahan tahun 2020, buku ini diterjemahkan oleh penerbit sekaligus pemimpin redaksi Marjin Kiri, Ronny Agustinus.

Vijay Prashad, adalah penulis buku tersebut. Ia adalah seorang sejarawan, jurnalis dan intelektual Marxis dari India. Menjabat sebagai direktur eksekutif continental: Institute for Social Research dan pemimpin redaksi penerbit Leftword Books. Ia juga mengajar kajian internasional di Trinity College, Connecticut, AS pada 1996-2017 dan pada 2013-2014 menduduki Edward Said Chair di American University of Beirut. Melalui bukunya, yang sebetulnya tidak begitu tebal, dan dituliskan dengan gaya sastrawi—ia mengakui betul, tepat pada bagian Prakata; bahwa buku ini bukanlah kajian komprehensif. Melainkan buku yang berusaha menjelaskan kekuatan Revolusi Oktober bagi Dunia Ketiga.

Barangkali Prashad hendak menanamkan benih kesadaran bagi generasi selanjutnya. Menarasikan ulang, bahwa masa-masa tersebut sangatlah kompleks: diperlukan kebulatan tekad ketika berada di barisan perjuangan, dan dibutuhkan proses pengembangan ide brilian guna menghapuskan sistem penindasan—serta kebijakan yang lebih mengedepankan unsur kesetaraan—teruntuk kaum buruh dan tani, yang berada di negeri sendiri.

“Buku kecil ini berusaha menjelaskan kekuatan Revolusi Oktober bagi Dunia Ketiga. Ini bukanlah kajian komprehensif, melainkan sejilid buku kecil dengan harapan besar—bahwa suatu generasi baru akan melihat pentingnya revolusi ini bagi kelas buruh dan tani di belahan dunia yang menderita di bawah tumit dominasi kolonial. Banyak cerita yang tidak hadir di sini, dan banyak yang tidak diulas sepenuhnya. Hal itu wajar dalam buku seperti ini. Namun kisah-kisah ini penuh perasaan, cerminan aspirasi.” (hlm 3)

Membaca kajian sejarah Rusia yang ditulis dengan gaya sastrawi ini. Kita dapat memetik pembelajaran dan semangat revolusinya, ketika mereka—kaum tertindas: buruh dan tani—berusaha menyudahi sistem yang amat brutal itu; serta sebuah sumbangsi besar atas hidup-matinya Lenin yang diabadikan untuk mengarsiteki revolusi Rusia. Beberapa kali ia melakukan pemberontakan, terutama revolusi Februari dan Oktober 1905-1917.

Buku-Buku tentang Praktik dan Pemikiran Sosialisme dapat dibeli DI SINI

Dua tahun pasca revolusi 1917, Rusia telah berhasil menginspirasi gerakan buruh di seluruh dunia yang bercita-cita merebut legacy sejarah manusia sebagai pemegang absah ketika hendak memperjuangkan perjuangan kelas, memuliakan unsur kemanusiaan, dan mengembalikan harkat serta martabat manusia yang sebelumnya telah terampas. 

Masih ada banyak hal yang akan diuraikan oleh Prashad dalam buku ini. Tentu dengan penggunaan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami—serta tak lupa, kemudahan tersebut berkat bantuan penerjemah, Ronny Agustinus. Sebagai penutup, di bagian akhir bab buku ini, terdapat sebuah pesan mendalam yang hendak disampaikan Prashad kepada para pembacanya:

“Sosialisme adalah perubahan total dalam kehidupan rakyat: inilah poin terpenting yang diutarakan bukan hanya oleh Castro tetapi oleh pengalaman revolusi Kuba. Inilah sesuatu yang saya yakini merupakan hikmah paling penting dari sejarah eksperimentasi sosialis sejauh ini. Uni Soviet akan dikenang atas gebrakannya meruntuhkan monarki, emansipasi kelas tani dan buruhnya, melawan fasisme dan dukungannya bagi gerakan-gerakan anti-kolonial; ia tidak bisa direduksi sepenuhnya menjadi aksi-aksi pembersihan atau kegagalan memproduksi aneka macam komoditas. Kita harus mengembangkan ide-ide baru untuk memperdalam makna sosialisme, sebuah tradisi hidup bukan masa lalu yang tinggal bangkai.” (hlm 136)

Judul Buku: Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga 
Penulis: Vijay Prashad
Penerbit: Marjin Kiri
Penerjemah: Ronny Agustinus
Tebal: 137 halaman
Tahun Terbit: Agustus 2020

_______________
Aan Afriangga
Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi, peminatan Jurnalistik, di Universitas Mpu Tantular, Jakarta.

________________________________
Jika
kawan-kawan hendak mengirimkan tulisan untuk dimuat di bukuprogresif.com, silahkan lihat syarat dan ketentuan ini.

Untuk mendapatkan email secara otomatis dari kami jika ada tulisan terbaru di bukuprogresif.com, silahkan masukan email anda di bawah ini dan klik Subscribe/Berlangganan. Setelah itu, kami akan mengirimkan email ke anda (kadang masuk di spam/update) dan silahkan buka dan konfirmasi.

Bergabung dengan 163 pelanggan lain

Related posts

Leave a Comment

× Ada yang bisa kami bantu?