Resensi Buku

Menelisik Kehidupan Seksual Masyarakat Jawa pada Awal Abad ke-20

Obat koewat minjak Hindhie. . .Djika orang laki-laki lama hawa napsoenya kepada prempoean kaloe memake ini minjak lantas tambah hawa napsoenya…” (hlm. 68)

Politik liberal dan masuknya kapitalisme di Jawa pada awal abad ke-20 tidak memakmurkan masyarakat secara keseluruhan. Kesejahteraan yang tidak dapat dinikmati oleh kalangan tertentu berdampak pada gejolak sosial. Oleh karena terdesak secara ekonomi, ada yang menjadi pencuri, pelacur, serta banyak keluarga pribumi yang mempunyai anak perempuan—secara tidak langsung—menjualnya kepada laki-laki Belanda untuk dijadikan gundik atau nyai.

Bentuk perilaku dan prostitusi di Nusantara meningkat drastis sejak abad ke-19, terutama setelah tahun 1870 sampai menjelang abad ke-20 ketika ekonomi kolonial dibuka untuk modal swasta. 

Ekonomi kolonial untuk modal swasta berupa pengembangan perkebunan, terutama di Jawa Barat yang penduduknya jarang, industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang memerlukan banyak buruh lelaki dari daerah lain. Para buruh tersebut tidak hanya membawa keluarga mereka, tetapi dengan uang yang dimiliki mereka mencari perempuan di wilayah tempat tinggalnya. Beberapa tulisan menjelaskan hal ini,  pada tahun 1906 Residen Batavia melaporkan bahwa pelacuran di Karawang meningkat ketika dibangun rel kereta api antara Karawang dan Padalarang.

Kenyataan maraknya dunia seks di Jawa yang berupa pergundikan, nyai, pelacuran, dan sejenis membawa implikasi yang sangat buruk pada perkembangan kesehatan terutama bagi kalangan perempuan pekerja seks atau yang diperjual-belikan paksa.

Menurut W.F. Wertheim dalam Masyarakat Indonesia Dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial, sekitar tahun 1900 Belanda telah berhasil menetapkan dominasinya di seluruh kepulauan Nusantara. Dominasi kolonial telah membentuk stratifikasi sosial menurut ras yang menyebar di Jawa, yang juga meluas ke luar Jawa.

Untuk mendapatkan buku tentang SEJARAH, bisa dipesan DI SINI

Stratifikasi sosial atau golongan tersebut merupakan salah satu motor penggerak berbagai perubahan yang tengah terjadi. Ada beberapa indikator yang digunakan untuk melihat perubahan masyarakat di Jawa menjelang awal abad ke-20, yaitu; keadaan dan komposisi penduduk, mobilitas sosial dan urbanisasi, ekonomi liberal dan terbentuknya mentalitas baru, industrialisasi yang mendorong modernisasi dan perilaku sosial, dan masyarakat Jawa yang semakin terbuka.

Pandangan dan Perilaku Seksual pada Masyarakat di Jawa

Dalam masyarakat Jawa, seks menjadi simbolisasi atas sebuah kekuasaan yang tercermin pada elite birokrat. Kondisi tersebut dapat dilihat pada masa kejayaan keraton Jawa, seksualitas telah menjadi bagian integral dalam kehidupan dan ekspresi seni-budaya Jawa. 

Dalam serat Centhini masalah seksual ternyata juga telah menjadi tema-tema sentral dan pokok bahasan yang diungkap secara verbal atau terbuka, padahal dari sisi tertentu bertentangan dengan etika sosial Jawa. Selain serat Centhini, ada juga serat Kamawedha yang keduanya memberikan panduan memadai tentang seksualitas Jawa. Sedangkan untuk kaitan seks dengan kesehatan dapat dilihat dalam Primbon Jalu Usada dan Primbon Wanita Usada.

Pada masyarakat Jawa klasik mengenal dan membagi ajaran bercinta dalam konteks seksualitas menjadi lima titik perhatian, antara lain; Asmaratura, Asmaraturida, Asmaranala, Asmaradana, Asmaratantra, dan Asmaragama. Konsep bercinta ini masing-masing memiliki kelebihan dan ciri khas masing-masing. Pada umumnya ajaran ini lebih banyak dilakukan oleh kaum bangsawan dan orang-orang Keraton, namun ajaran ini telah mengakar kuat dalam konsep seni bercinta masyarakat Jawa.

Buku yang ditulis oleh Gayung Kasuma berjudul Dari Privat ke Publik: Kehidupan Seksual di Jawa Awal Abad ke-20 juga menjelaskan perilaku seks di kalangan pribumi Jawa yang dilakukan oleh berbagai kalangan; priyayi atau elite birokrasi, pekerja atau buruh, hingga pekerja seni. Penjelasan mengenai banyaknya iklan obat kuat dan kecenderungan kehidupan seksual juga diuraikan dalam buku ini.

Masyarakat, Prostitusi, hingga Aborsi

Pada tahun 1939, ahli penyakit kulit dari Batavia R.D.G. Pl. Simon menerbitkan sejumlah laporan mengenai prostitusi di Hindia Belanda, kebanyakan pengamatannya di Kota Surabaya. Laporan tersebut memberi pemahaman yang tajam tentang sisi kehidupan dalam pemerintahan kolonial yang pada umumnya belum diketahui.

Akhir abad ke-19 hingga memasuki abad ke-20 dalam laporan dari komisi rakyat, memberitakan di Batavia ditemui 300 anak perempuan yang masih muda dan para istri melakukan prostitusi di Pelabuhan Tanjung Priok, bahkan jumlah itu mencapai 400. Mereka kebanyakan berasal dari Batavia dan sekitarnya, Jawa Tengah sekitarnya, serta dari berbagai wilayah di nusantara.

Untuk mendapatkan buku tentang Seksual dan Perempuan, bisa dipesan DI SINI

Dari Privat ke Publik menjelaskan secara rinci mengenai kehidupan seksual masyarakat di Jawa pada awal abad ke-20. Mulanya seks merupakan urusan pribadi bagi umat manusia karena menyangkut rahasia rumah tangga, akan tetapi pergeseran makna itu semakin terbuka ke ruang publik. Iklan surat kabar dengan terang-terangan menawarkan sebuah buku panduan untuk kehidupan seks suami-istri. Buku yang dimaksud berisi perihal hubungan seks laki-laki dan perempuan, bahkan untuk menarik minat juga disertakan gambar-gambar.

Keterbukaan seks semakin menjadi bebas ketika adanya interaksi masyarakat pribumi, Tiongkok, dan orang-orang Eropa yang terjadi pada kehidupan seksual mulai masuk dalam bentuk prostitusi. Selain rumah bordil atau tempat-tempat tersembunyi, tempat-tempat prostitusi juga terdapat di sekitar stasiun kereta api di perkotaan Jawa dan sekitar pelabuhan Tanjung Priok di Batavia, pelabuhan Surabaya, dan pelabuhan Semarang.

Maka dari beberapa dampak seksualitas di atas, memunculkan tindakan lain dari seks bebas. Perempuan yang melakukan seks bebas dapat mengalami kehamilan yang tidak direncanakan membuat mereka melakukan tindakan aborsi untuk menutupi rasa malu, alasan ekonomi, dan sebagainya.

Dengan membaca buku ini kita dapat menelisik lebih dalam tentang pergeseran kehidupan seksual di Jawa pada awal abad ke-20 dan dapat membuat kita berkaca tentang perkembangan seksualitas itu 100 tahun kemudian, yaitu di abad-21.

Judul: Dari Privat ke Publik
Penulis: Gayung Kasuma
Penerbit: Kendi Publisher
Tebal: xxvi+163hlm

______________________
Nabila Putri Syasabil
Mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga
dapat dihubungi di akun IGnya: @helloenab

________________________________
Jika
kawan-kawan hendak mengirimkan tulisan untuk dimuat di bukuprogresif.com, silahkan lihat syarat dan ketentuan ini.

Untuk mendapatkan email secara otomatis dari kami jika ada tulisan terbaru di bukuprogresif.com, silahkan masukan email anda di bawah ini dan klik Subscribe/Berlangganan. Setelah itu, kami akan mengirimkan email ke anda (kadang terkirim di menu spam/update) dan silahkan buka dan konfirmasi.

Bergabung dengan 173 pelanggan lain