Filsafat

Kritik atas Kritik Ismantoro atas Buku “Mitos Merebut Negara”: Perjuangan Tanpa (Kesadaran) Kelas

Sanggahan Ismantoro Dwi Yuwono atas gagasan saya di buku “Mitos Merebut Negara” dapat dikatakan menarik. Ketertarikan saya atas sanggahan tersebut ada pada posisi penting “Perjuangan Kelas” yang merupakan salah satu konsep penting, sehingga frasa itu dijadikan bagian dari judul tulisan tersebut (Kesadaran & Perjuangan Kelas: Sanggahan Untuk Jun Bramantyo).[1] Tulisan ini bertujuan untuk mengkritik tulisan tersebut sambil di sisi lain menegaskan posisi pembacaan saya atas Marx. Selain itu tulisan ini akan mengargumentasikan bahwa marxisme mengungkapkan eksploitasi dalam sistem kerja-upahan bukan untuk mendorong perlawanan pekerja terhadap modal, melainkan lebih jauh dari…

Read More
Filsafat

“Lack”, Keselamatan, dan Simbol Politik

Bagaimana simbol berperan dalam kehidupan masyarakat? mengapa orang membutuhkan simbol? bagaimana simbol bekerja merumuskan subjek warga negara? Dengan menggunakan konsep “lackness” dari teori psikoanalisa Lacan, saya berusaha menjawab tiga pertanyaan tersebut yang kemudian diharapkan dapat memetakan proses representasi simbol politik kewargaan di Indonesia. Hidup dan Matinya Simbol Cukup sulit memberikan definisi yang sahih dan valid tentang apa itu simbol. Terlampau banyaknya elemen dan atribut yang melekat pada universum “simbol”, memberikan definisi berarti membuat pembatasan terhadap sesuatu yang sebenarnya universal. Dengan demikian, konsep simbol yang digunakan di dalam tulisan ini lebih…

Read More
Filsafat

Subjek Etis: Subjek yang Sesungguhnya Menurut Levinas

Salah satu filsuf yang memberi sumbangan konstruktif terhadap perkembangan filsafat, khususnya tentang etika pada abad ke-20 adalah Emmanuel Levinas. Secara khusus, filsuf yang lahir pada tahun 1912 di Lituania itu memiliki keprihatinan yang radikal dan mendalam terhadap sesama manusia, yang dilihatnya sebagai bagian integral dari dirinya. Dalam terminologi Levinas, sesama diartikan sebagai “yang lain” (the other). Terminologi “Yang lain” itu, secara khusus merupakan representasi dari mereka yang lemah, terasing, menderita, dan yang terbuang. Menurut Levinas, keberadaan “yang lain” ini menghadirkan suatu impul etis dalam diri subjek yang memandangnya, yang mengharuskan…

Read More
× Ada yang bisa kami bantu?