Resensi Buku

Menyoal Uang, Agama Pemersatu Umat Manusia

Judul         : Agama Saya Adalah Uang
Penulis     : Nurudin 
Penerbit   : Penerbit Intrans Malang dan Terakota 
Tahun       : Cetakan Pertama, Februari 2020  (XVI + 182  halaman)

Manusia Indonesia memang ditakdirkan beragam. Ragam bahasa, ragam suku, ras, dan ragam budaya. Ribuan pulau yang ada, di luar lima pulau yang utama, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Papua, membentang dari Sabang hingga Merauke. 

Keragaman itu ternyata ada pemersatunya, yakni agama. Agama apakah itu? tentu bukan Islam, Kristen, Budha, Hindu, atau lainnya. Agama yang menyatukan semua golongan masyarakat saat ini adalah uang. Ya, uanglah yang menyatukan semua perbedaan itu. Orang miskin atau kaya, muda atau tua, lelaki atau perempuan, remaja, dewasa, bertitel atau tak berijazah, semua membutuhkan uang. Beramai-ramai mereka mencari uang, mengumpulkannya, mendapatkan sedikit atau banyak, bisa ditabung atau tidak, uang adalah tujuan utama mereka hidup. Sebenarnya ini sudah diingatkan Voltaire, “Dalam perkara uang, setiap orang memiliki agama yang sama.” Uang kini menjadi agama baru dan kian banyak pengikutnya.

Sebagai agama, uang sudah masuk dan menguasai relung-relung kehidupan. Demikian juga dalam politik, uang menjadi panglima. Akibatnya, kekuatan uang berhasil menguasai kekuasaan. Saat berurusan dengan kekuasaan, politik dan politisi tidak lagi memakai ‘akal sehat.’ Yang ada adalah satu kepentingan. Begitu menjadi satu kelompok, rebutan pengaruh dan kekuasaanlah yang muncul.  

Mengapa bisa begitu? Di sinilah Nurudin penulis buku Agama Saya Adalah Uang melihat bahwa seseorang yang berhasil menguasai kekuasaan, banyak hal yang bisa dilakukan. Bisa terkenal, kaya, ikut menentukan kebijakan negara. Tidak heran, penulis menyindirnya dengan kalimat : Dalam perkara politik, setiap orang mempunyai agama yang sama pula, yakni uang. (Hal. 92).

Nurudin, yang bekerja sebagai dosen komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam bukunya memberikan kritik atas kekuasaan dan uang. Buku ini seperti bangsa Indonesia, banyak keragaman yang ada di dalamnya. Baik itu masalah pelik, hingga masalah sederhana di lingkungan hidup, yang seringkali tidak kita pikirkan. Sebagai kumpulan tulisan-tulisan yang berserakan sepanjang 2019, kritik-kritik yang dihadirkan selalu hangat saat masing-masing judul tulisan itu lahir. Nyatanya, kritik-kritik yang disampaikan masih saja relevan dan bernas dengan kondisi saat ini. Contohnya, tulisan berjudul “bangsa pembuka aib saudara,” nyatanya kritik ini masih saja berjalan (Hal.93). Kita tetap saja selalu menjelek-jelekkan saudara, teman, dan masyarakat sebangsa, saat pilihan politik mereka berbeda. Padahal, ia mengingatkan, bahwa saat membuka aib orang lain, sebenanrya ia menunjukkan aib sendiri. Dalam melakukan upaya tersebut, segala cara akrobat dilakukan, kekuatan media dimaksimalkan, hingga massa digerakkan. 

Beberapa judul dari tulisan yang dibuat, tampak jenaka dan berupa anekdot. Di antaranya, “Dipertemukan FB, Dipererat WA, Lalu Dipisahkan Pilpres”, “Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang,” “Indonesia Negeriku, Orangnya Lucu-Lucu,” “BPJS : Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita,” dan “Kritiklah Daku, Kau Kutangkap.”

Tidak perlu mbulet dengan kalimat akademis, Nurudin menulis dengan bahasa populer yang mudah dicerna semua kalangan. Karena toh, tujuan utamanya adalah kritik dan sindirannya mengena. Ia menghindari kritik keras dan sarcasm, sebab tidak sesuai jiwanya.

Lebih detail membicarakan buku yang terbit Februari 2020 ini, ada empat bagian dibuat. Pertama, Pluralitas masyarakat dn peluang integrasi; Kedua, pemerintah kuat Negara lemah. Kemudian, ketiga, bersatu karena kepentingan pragmatis; keempat, Pemerintah dan kecurigaan pada gerakan masyarakat. Masing-masing bagian ada 9-10 tulisan yang sederhana dan ngepop

Tema mengenai klakson dan budaya membunyikannya, menunjukkan kepada kita, sadar atau tidak sadar, kita hidup di masyarakat yang serba nggampangke. Budaya di jalanan yang tidak memberikan penghormatan dan penghargaan pada pejalan kaki dan pesepeda oleh penunggang sepeda motor, lebih dominannya mobil daripada sepeda motor, membuat kita terbelalak dan bilang, oh iya, selama ini tidak menyadarinya.(Hal. 13) 

Selain politik dan hal-hal remeh temeh di sekitar kita, yang diangkat cukup bagus, permasalahan mengenai politik tampaknya menduduki porsi terbesar dari tulisan-tulisannya. Sebagai dosen komunikasi, pengamatan akan media massa dan politik menjadi bagian tak perpisahkan darinya. Sudut pandang yang berbeda yang diungkapkan penulis, menambah bobot tulisan kritis tersebut.

Ada 37 tulisan esai dalam buku setebal 198 ini. Ramuan tulisan mulai dari politik, sosial, kapital, perkara klakson dan babi, serta jaminan kesehatan. Kritik lain juga muncul saat ada kejadian pemilihan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK), pemilihan calon pimpinan KPK, hingga soal revisi UU KPK. Semua hal yang membuat gaduh dan membuat masyarakat kebingungan atas perilaku dan kebijakan pemerintah, tidak luput dari tulisannya. Bukan hal kebetulan, karena penulis sendiri berkata, saat memilih menjadi pendukung dan pengkritik, dirinya lebih memilih sebagai pihak yang mengkritik penguasa. Harapannya, penguasa juga lebih bijak dan objektif memilih dan menentukan kebijakan yang pro-rakyat. Itulah harapan dan keinginan penulis, tidak lebih dan kurang.

Kecintaan pada dunia sastra juga mewarnai tulisan-tulisannya. Tak heran, pada tulisannya, sesekali membawa cerita silat lawas semacam Nagasasra dan Sabuk Inten (Hal. 89) , atau kisah klasik Bende Mataram (Hal. 8). Ini menandakan penulis begitu paham akan buku-buku cerita itu, merasuki sanubarinya, dan terlahir kembali menjadi tulisan esai yang unik dan menarik.

Buku ini layak dimiliki dan dibaca siapa saja. Entah kalangan kampus, praktisi media, dosen, hingga masyarakat umum. Dengan membaca ini, Anda sedikit banyak bisa memahami berbagai isu di Indonesia, dari bidang sosial, ekonomi, budaya, lifestyle, dan tentu saja politik. Kehadiran buku ini tentu akan member sumbangan bacaan untuk menumbuhkan literasi.

_______________
Heru Setiyaka
Bekerja pada Perusahaan Konsultan Komunikasi dan Mahasiswa Program Magister Psikologi Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

________________________________
Jika
kawan-kawan hendak mengirimkan tulisan untuk dimuat di bukuprogresif.com, silahkan lihat syarat dan ketentuan ini.

Untuk mendapatkan email secara otomatis dari kami jika ada tulisan terbaru di bukuprogresif.com, silahkan masukan email anda di bawah ini dan klik Subscribe/Berlangganan. Setelah itu, kami akan mengirimkan email ke anda (kadang terkirim di menu spam/update) dan silahkan buka dan konfirmasi.

Bergabung dengan 149 pelanggan lain

Related posts

Leave a Comment

× Ada yang bisa kami bantu?