Resensi Buku

Moralitas Camus Bukan Moralitas Fasis

Judul         : Krisis Kebebasan
Penulis    : Albert Camus
Penerbit   : Yayasan Obor Indonesia
Tebal        : xviii + 174 halaman

Pergulatan utama di dunia saat ini adalah pergulatan antara moralitas yang satu dengan yang lain. Dunia sedang berada dalam titik di mana moralitas kehilangan universalitasnya. Seiring dengan kekuasaan pihak-pihak yang semakin gila, moralitas berkembang tidak lagi pada nilai moralnya tetapi dalam kepentingan yang dibawanya. Secara tidak sadar moralitas-moralitas yang sering kita lihat sekarang ini sudah melanggar moralitas itu sendiri.

Tidak ada sesuatu pun yang bebas dari kepentingan ideologis, begitulah kata-kata filsuf pasca-modernis. Banyak yang memperhatikan, banyak pula yang mengabaikannya. Namun, kita tidak bisa mengelak bahwa sekarang dunia dalam ironi. Bahwa moralitas yang selalu dianggap netral, bahkan menjadi penengah dalam situasi pertarungan beberapa pihak, pada kenyataannya memiliki kepentingan ideologis di baliknya. Inilah titik dimana moralitas sendiri menjadi fasis.

Namun, benarkah fenomena ini adalah fenomena baru? Nyatanya sejarah mencatat bahwa jawabannya tidak. Tiap rezim penguasa, sekejam apapun mereka, selalu datang dengan membawa nilai moralitasnya sendiri. Sehingga pertanyaannya justru berubah, apakah memang pernah ada moralitas tanpa kepentingan ideologis?

Terlepas dari pembahasan yang sarat akan suasana pasca-modernisme di atas, bukan intensi saya untuk membahasnya dari sudut pandang yang penuh dekonstruksi dan relasi kuasa itu. Justru yang dibahas di sini adalah seorang filsuf eksistensialis, yang terkenal karena filsafat absurditasnya. Albert Camus melihat kehidupan sebagai sesuatu yang absurd. Kisah-kisah dalam tulisannya pun absurd. Mulai dari The Plague, The Fall, The Stranger, dan kisah lainnya. Tulisannya kental dengan kesuraman. Jadi untuk apa membahas Camus dalam perbincangan soal moralitas?

Buku ini adalah tulisan Camus yang bukan berbentuk karya sastra melainkan esai-esai. Bisa dibilang, dibanding dengan karya sastranya, Camus terlihat optimistis di sini. Camus tampak seperti seseorang yang tengah jatuh cinta dengan dunia. Membicarakan banyak hal tentangnya, dan juga takjub, terpesona, dan marah dengan segala yang ada pada dirinya. Kini Camus berbicara soal kebebasan dan dari sinilah moralitas yang kita lihat selama ini dihajar olehnya.

Mulai dengan empat pucuk Surat kepada Seorang Teman dari Jerman. Memanggil kawan pada fasis Nazi Jerman, begitulah cara Camus memulai suratnya. Di surat ini Camus memang berbicara selayaknya kawan lama yang penuh kekecewaan. Antara dirinya dengan sang fasis seperti berbicara dari sisi jalan yang berlainan di jalan yang sudah tersimpang. Surat ini seperti mengalir terus menerus dan menjadi lebih deras. Kala Camus akhirnya mengutuk “kawannya” dan menegaskan dirinya

Aku masih yakin bahwa kehidupan memang tidak mempunyai arti. Tapi aku tahu bahwa ada sesuatu di dalamnya yang mengandung arti, dan sesuatu itu adalah manusia, karena hanya manusialah satu-satunya makhluk yang gigih mencari makna” (hal. 25)

Berbicara tentang masa kini, Camus tidak hanya menghajar fasisme Jerman yang bagi kita terasa jauh, tetapi juga menghajar nasionalisme fasis yang ada di pelupuk mata kita, namun luput dari pandangan. Kala orang Papua menjadi korban dari mantra gaib persatuan; saat persaudaraan pecah karena pesta oligarki berbagi kekuasaan; kita tetap mabuk dalam buaian nasionalisme yang hanya katanya persaudaraan. Inilah pukulan knockout dari Camus untuk kita: “Aku tak bisa percaya bahwa segala sesuatu harus dikorbankan demi satu tujuan. Ada hal-hal yang tidak bisa dikorbankan. Dan aku lebih senang mencintai negeriku dan tetap mencintai keadilan.” (hal. 3).

Tulisan yang menarik lainnya adalah Berkarya dalam Bahaya, yang bersama dengan Seniman dan Zamannya, berbicara tentang kesenian dalam kehidupan. Jika dalam Seniman dan Zamannya pemikiran Camus terlihat jelas karena berbentuk wawancara, maka dalam Berkarya dalam Bahaya bentuknya lebih abstrak. Meski begitu, seperti yang kerap muncul dalam tulisan Camus soal seni adalah sikapnya yang sulit dibayangkan. Bersamaan dengan menolak seniman netral, ia juga menolak realisme. Ambiguitas ini selayaknya yang diungkapkan Camus, “karena dianggap sebagai seniman, kami mungkin merasa tidak perlu mencampuri urusan dunia. Tetapi karena kami juga manusia, hal itu menjadi perlu.” (74-75).

Soal seni, yang legendaris dari Camus mungkin adalah konfrontasinya dengan Sartre. Sebagai seorang eksistensialis-cum-aktivis, Sartre menyatakan bahwa seni harus revolusioner. Namun Camus tetap konsisten dalam tiap tulisannya, termasuk soal seni, bahwa yang utama adalah kebebasan. Baginya seni yang bebaslah yang tepat, dan realisme membelenggu kebebasan seni. Semangat pembebasan seni adalah “ketegangannya yang tidak henti-hentinya antara keindahan dan penderitaan” (hal. 96).

Meski kritik itu disampaikan dalam konteks seni, tulisan lain juga menampilkan kritik yang serupa mengenai beberapa hal yang berbeda. Mulai dari kritik terhadap tuntutan keberpihakan kaum intelektual dalam Sosialisme Tiang Gantungan. Absurditas yang kontradiktif dan kritiknya pada nihilisme mutlak dalam Sang Pembelot. Penghormatannya pada Eduardo Santos dalam Menghormati Sebuah Pengasingan. Dan (lagi-lagi) keberpihakan dalam tulisan Taruhan Generasi Kita. Begitu juga tanggapannya terhadap revolusi yang berujung pada lahirnya rezim tirani baru dalam Pangan dan Kebebasan.

Terakhir adalah tulisan yang berjudul Merenungkan Gilotin. Pembahasan di sini agak berbeda karena dan ,dibanding tulisan yang lain, tulisan ini lebih panjang. Camus berbicara mengenai pelaksanaan hukuman mati. Jika dalam tulisan lain Camus berbicara selayaknya filsuf dalam pikiran awam, seseorang yang berbicara mengenai hal yang mengawang-awang, di sini Camus agak lain. Membahas hukuman mati dengan posisi kontra, Camus menyajikan data betapa tidak efektifnya hukuman mati. Meski data yang disajikan bukan data kuantitatif yang njelimet, tapi Camus berbicara dalam tataran yang sangat konkret. Sebelumnya Camus menjelaskan dulu pelaksanaan hukuman mati dalam alur historis. Berbekal itu semua, Camus menghajar anggapan bahwa hukuman mati adalah hukuman yang laik dilaksanakan.

Dalam tiap tulisannya, Camus meloncat-loncat dari satu masalah ke masalah lain. Jadi apakah tulisan Camus yang terpecah-pecah ini hanya seperti halnya kliping tentang komentar Camus? Tentu tidak. Justru Camus melalui kumpulan tulisannya yang beragam menunjukkan keindahan filsafatnya. Terdapat suatu kontinuitas dalam setiap tulisannya yakni pendirian Camus pada kebebasan. Jangkar dari moralitas Camus adalah kebebasan. Seluruh kritiknya, setidaknya dalam tulisan-tulisan ini, dapat dipahami jika melihat konsistensinya pada kebebasan. Di sinilah Camus bertentangan dengan moralitas yang sering kita lihat akhir-akhir ini. Moralitas yang hadir di depan kebanyakan berayun-ayun di antara nilai-nilai yang kontradiktif. Kala moralitas yang memberi harapan untuk kita adalah moralitas yang sama dengan yang membelenggu kita. Selayaknya moralitas seorang fanatik, moralitas yang fasis. Kebebasan adalah hal yang tidak bisa dikorbankan, bahkan dalam perjuangan seperti revolusi ataupun moralitas. Begitulah Camus menolak moralitas fasistik dengan moralitas penuh kebebasannya. Sekali lagi, Camus memang seorang yang absurd.

__________________
Karunia Haganta
Mahasiswa di Jakarta
dapat dihubungi di karunia.haganta@gmail.com atau twitter: @karuniahaganta

________________________________
Jika
kawan-kawan hendak mengirimkan tulisan untuk dimuat di bukuprogresif.com, silahkan lihat syarat dan ketentuan ini.

Untuk mendapatkan email secara otomatis dari kami jika ada tulisan terbaru di bukuprogresif.com, silahkan masukan email anda di bawah ini dan klik Subscribe/Berlangganan. Setelah itu, kami akan mengirimkan email ke anda (kadang terkirim di menu spam/update) dan silahkan buka dan konfirmasi.

Bergabung dengan 143 pelanggan lain

Related posts

Leave a Comment

× Ada yang bisa kami bantu?