Ekososialisme

Pagebluk Covid-19 sebagai Bencana Kapitalisme: Permasalahan dan Perjuangan ke Depan

Tulisan pengantar dari tulisan berseri yang akan terbit berkala
Baca juga: Kapitalisme Bertentangan dengan Kepedulian Lingkungan

Zaman pagebluk (atau pandemi) telah menghantui umat manusia. Baru-baru ini, virus Covid-19 atau Sars-CoV-2 menyebar ke penjuru dunia dengan korban telah mencapai 532.936 orang dan 24.094 orang di antaranya meninggal dunia.[1] Sekitar 35 lembaga akademik dan perusahaan tengah berpacu dengan waktu untuk membuat vaksin demi mencegah terus jatuhnya korban. Dengan vaksin, maka akan menumbuhkan antibodi yang berfungsi melindungi sel tubuh manusia dari serangan patogen Covid-19. Meskipun secara normal dibutuhkan waktu sampai satu dasawarsa untuk melakukan uji coba vaksin hingga akhirnya imunisasi secara global dapat dilakukan,[2] namun di tengah bahaya virus ini, pengembangan vaksin sembari juga pengembangan obat untuk penderita Covid-19 terus dipercepat.

Sejarah telah menunjukan kepada kita, bahwa Covid-19 bukanlah wabah pertama yang memangsa banyak korban. Selama sekitar seabad terakhir, bermunculan wabah penyakit jenis baru atau bentuk mutasi baru. Pada tahun 1918, pagebluk Flu Spanyol yang dipercaya berasal dari patogen di unggas[3], menginfeksi seperlima populasi manusia di dunia dan menewaskan sekitar 50 juta orang. Pada tahun 1976, wabah Ebola yang berasal dari patogen di kelelawar buah Afrika Barat menginfeksi 33.577 korban dan 13.562 orang meninggal dunia; pada awal abad 21 tepatnya tahun 2002, wabah SARS menyebar, menginfeksi 8.096 orang dan menewaskan 774 orang; tidak berselang lama muncul wabah H1N1 yang berasal dari patogen di babi pada tahun 2009, virus ini menginfeksi 1.632.258 korban dan 284.500 orang meninggal dunia; tiga tahun berselang muncul wabah MERS yang berasal dari patogen di kelelawar, menjangkiti 2.494 orang dan menewaskan 858 orang.

Berbagai virus yang disebutkan di atas berubah menjadi penyakit bukan tetiba muncul tanpa sebab, tetapi merupakan hasil hubungan antara manusia dengan non-manusia (alam semesta selain manusia, karena manusia bagian dari alam, sebagaimana juga virus, hewan, dan tumbuhan). Berbagai penelitian, salah satunya dilakukan oleh Rob Wallace[4], menyebutkan bahwa patogen yang merupakan bibit virus atau bakteri yang hidupnya membutuhkan medium atau berparasit di hewan (dijadikan inang), saat ini semakin terdesak di habitat aslinya yaitu di hutan-hutan atau lautan yang berusia ribuan atau bahkan jutaan tahun. Oleh karena hutan-hutan semakin menipis karena dijadikan sebagai area perkebunan atau pertambangan, sementara tempatnya berparasit semakin punah, maka patogen itu terus bermutasi. Hewan tempat patogen berparasit juga sering diburu dan dijadikan makanan bagi manusia. Setelah sebelumnya dapat dikalahkan oleh antibodi atau imun di tubuh manusia, mutasi patogen itu akhirnya bisa berparasit di tubuh manusia hingga membuat manusia sakit. Proses ini yang memicu wabah Covid-19 sebagaimana juga penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola, SARS, H1N1, dan MERS.

Penyakit jenis lain yang sekarang juga terus mengintai manusia, adalah penyakit yang dihasilkan oleh industri pertanian dan peternakan modern—yang sebelumnya merusak ruang hidup patogen. Kedua industri ini melakukan mutasi genetik terhadap tanaman dan hewan agar menjadi lebih produktif dan cepat menghasilkan keuntungan. Bahan-bahan kimia bahkan digunakan untuk semakin menyuburkan tanaman atau menggemukan ternak, sehingga dampaknya bagi manusia sudah jelas, bahwa kesehatan mereka dipertaruhkan. Penggunaan DDT (dichlorodiphenyltrichloroethane) atau pestisida dalam industri pertanian contohnya, telah menyebabkan jenis penyakit baru bagi manusia dan merusak ekologi.[5] Begitupula dengan logika efisiensi dan efektifitas untuk memaksimalisasi keuntungan dalam industri peternakan, membuat hewan dipaksa tumbuh dan besar diluar habitat serta tanpa makanan alaminya.[6]

Pertanian, penernakan, dan industri modern ini telah menciptakan keretakan metabolisme sosial.[7] Keretakan terjadi karena metabolisme alam terganggu akibat penjarahan yang dilakukan oleh manusia secara berlebihan, sehingga terjadi kerusakan alam dan kepunahan flora-fauna. Alam dan hewan (termasuk patogen) yang sebelumnya dapat hidup beriringan dengan manusia, pada titik tertentu menjadi tidak beriringan lagi. Akibatnya, dalam bahasa Engels[8], terjadi “pembalasan” dari alam semesta sehingga menimbulan bencana alam hingga wabah yang mengancam kehidupan manusia.

Kemunculan wabah ini menjadi semakin berbahaya karena ketidakmampuan pemerintah dalam hal pencegahan dan penanganan. Kita dapat melihat pada pagebluk Covid-19 ini, dikedepankannya pertumbuhan ekonomi, telah membuat keselamatan warga digadaikan. Jejak digital kelas penguasa di media sosialnya atau pernyataan dan kebijakan mereka yang diliput media memperlihatkan ideologi mereka kepada kita. Bencana pageblug Covid-19 ini membuka tabir gelap kekuasaan dan menunjukan keberpihakan mereka yang sebenarnya. Aparatus pemerintahan Jokowi contohnya, mereka seperti memancing di air keruh. Di saat virus mulai menyebar dengan cepat menjangkiti warga Wuhan sejak Desember 2019, kemudian pada Januari 2020 mulai menyebar ke berbagai penjuru dunia, pemerintah justru memanfaatkan situasi dengan mempromosikan pariwisata Indonesia di hadapan dunia—yang sedang dilanda bahaya.[9] Kelas penguasa berupaya menutupi wabah ini jutru demi mendongkrak ekonomi. Dampaknya begitu fatal, pada saat korban pertama mulai diumumkan secara resmi oleh pemerintah pada 02Maret 2020, penanganan kesehatan dan pencegahan agar pagebluk ini tidak menyebar tampak begitu amburadul. Dampak dari ketidaksiapan pemerintah telah membuat delapan tenaga kesehatan yang menangani korban Covid-19 harus meninggal karena minimnya fasilitas medis untuk upaya penanganan. Sementara korban lain diping-pong karena ketidakjelasan alur penanganan dan pembiayaan. Hal ini jelas menjadi tanggungjawab pemerintah, karena sedari awal cenderung abai dan mementingkan kepentingan bisnis semata.

Saat ini, pasar saham mengalami kehancuran, resesi semakin meluas dan mengarah ke krisis ekonomi. Covid-19 dituding oleh kelas penguasa sebagai penyebab ambruknya ekonomi kapitalisme. Pemerintah Amerika Serikat bahkan menggelontorkan 2 Trilun USD (jika dirupiahkan adalah 32 Beliun rupiah) dana talangan kepada dunia bisnis untuk menyangga tiang ekonomi yang semakin rapuh.[10] Alih-alih digunakan untuk menyelamatkan warga dari bahaya Covid-19, dana tersebut justru digunakan untuk menutupi kerugian korporasi. Harvey[11] dengan seksama menunjukan bahwa krisis tidak terjadi karena Covid-19, akan tetapi karena sejak awal ekonomi kapitalisme pasca krisis tahun 2008 sudah semakin rapuh. Cepat atau lambat, krisis itu akan terjadi, Covid-19 datang sebagai penyulutnya.

Dampak dari resesi ekonomi ini, diperkirakan membuat 25 juta pekerja terancam dipecat atau dipotong upahnya.[12] Ketakutan terjadi bukan hanya karena Covid-19, namun lebih dari itu, bagi kelas pekerja yang bergantung dengan upah, mereka lebih takut jika harus dipecat. Hal yang sama dialami oleh pekerja informal, di tengah himbauan untuk tidak keluar rumah, membuat pendapatan harian mereka macet karena semakin sedikitnya pembeli atau pengguna jasa mereka. Ketakutan terkait kerjaan ini, membuat kelas pekerja yang tidak memungkinkan untuk Work from Home (kerja dari rumah) tetap berangkat kerja ke pabrik. Mereka seperti bertarung di tengah ancaman virus yang setiap detik bisa jadi menikamnya. Mereka terus dipaksa bekerja oleh pengusaha yang tidak mau menutup pabriknya, karena jika itu dilakukan, maka potensi keuntungan yang didapat menghilang.

Di tengah semakin cepatnya penularan pagebluk Covid-19, perdebatan yang muncul adalah apakah lockdown diperlukan atau tidak. Dari sini kita dapat melihat di sisi mana pemerintah dan masing-masing kelompok berpihak. Pemerintah menyatakan sikap menolak lockdown, dengan alasan bahwa akan memperburuk kondisi ekonomi, walaupun ada isyarat, bahwa lockdown akan dilakukan ketika jumlah korban meninggal semakin besar dan tidak terkendali. Sekali lagi kita diharapkan dengan sebuah fakta, bahwa kepentingan ekonomi dijadikan pertimbangan utama dibanding dengan keselamatan warga. Itu mengapa pemerintah membiarkan para pekerja formal tetap bekerja di tengah marabahaya seperti ini.

Dalam tulisan pengantar ini, kita dapat melihat bahwa dunia sedang dalam marabahaya dan spesies manusia terancam punah sebagaimana flora-fauna yang telah punah sebelumnya. Kemunculan Covid-19 bukanlah virus terakhir yang sangat berbahaya bagi manusia, akan tetapi ketika mutasi patogen terus terjadi (karena tempatnya berparasit semakin punah), bukan tidak mungkin virus yang lebih mengerikan akan kembali muncul. Kondisi ini disebabkan oleh pola hubungan antara manusia dengan non-manusia yang tidak lagi selaras, karena manusia melakukan perusakan terhadap alam semesta. Tidak semua dari kita melakukan perusakan tersebut, yang melakukan adalah segelintir orang yang digerakan oleh hukum umum sistem ekonomi yang berjalan saat ini, yaitu kapitalisme.

Dalam hukum umum ekonomi kapitalis, dorongan akumulasi menjadi roh utama di tengah hukum memaksa dari kompetisi di pasar, bahwa yang kalah akan bangkrut dan yang menang akan berakumulasi.[13] Itu sebabnya, kita melihat bagaimana sistem ini bersifat rakus, membabat hutan, menjarah alam, mengeksploitasi manusia, hingga menggunakan bahan kimia dan memutasi gen ternak untuk mencapai tujuan utamanya: keuntungan sebesar-besarnya.

Kita dapat melihat bahwa dorongan akumulasi telah berperan dalam dua lapis bagi kelahiran bencana kapitalisme ini. Pertama, sistem ini berkontribusi pada munculnya virus yang menyerang manusia. Kedua, karena sistem ini mengutamakan aspek ekonomi, maka mengabaikan keselamatan warga pada saat virus menyebar menjadi pagebluk.

Oleh karena itu, jika sistem ekonomi ini masih terus berjalan, maka zaman pagebluk yang semakin parah akan terus menghantui kita. Untuk menghentikan hantu-hantu krisis itu, maka kita perlu menghentikan pula kapitalisme dan sudah saatnya membangun sistem ekonomi alternatif: ekososialisme.

*** *** ***

Dalam menyikapi wabah yang mengancam kepunahan manusia, saya akan menyajikan delapan tulisan berseri dengan tema utama “Pagebluk Covid-19 sebagai Bencana Kapitalisme: Permasalahan dan Perjuangan ke Depan”. Dalam tulisan berseri ini akan menunjukan akar permasalahan kemunculan berbagai wabah penyakit yang mengancam kehidupan manusia dan keberlangsungan alam semesta. Selain itu, juga menawarkan agenda perjuangan ke depan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Tulisan berseri ini akan diterbitkan secara berkala, sehingga jangan lupa subscribe/berlangganan secara gratis website bukuprogresif.com melalui form di bawah. Adapun tema dari tulisan berseri ini adalah sebagai berikut:

  1. Dorongan Akumulasi telah Menghasilkan Kekayaan untuk Segelintir Orang, Wabah Penyakit bagi Banyak Orang
  2. Pagebluk Covid-19: Ideologi Pertumbuhan Ekonomi Menggadaikan Keselamatan Warga
  3. Sejarah Pagebluk terus Berulang: Pertama sebagai Tragedi, Berikutnya sebagai Lelucon
  4. Covid-19 bukan Penyebab Krisis Ekonomi, Covid-19 hanya Penyulut
  5. Kedermawanan bukanlah Solusi, Tak Akan Bisa Menyembuhkan “Penyakit” di Masyarakat Kita
  6. Tidak Kerja, Tidak Makan, Bekerja dihantui Wabah Kematian: Kondisi Kelas Pekerja di Tengah Pagebluk Covid-19
  7. Neoliberalisasi Menguras Dana Publik, Menjauhkan dari Upaya Perlindungan bagi Kelas Pekerja
  8. Menghentikan Pagebluk, Menghentikan Kapitalisme: Proyek Politik ke Depan

[1] Data korban Covid-19 terhitung sampai 27 Maret 2020 pukul 13.42 wib, data diakses melalui website: https://www.worldometers.info/coronavirus/

[2] The Guardian, “Coronavirus Vaccine: When Will It be Ready?,” sumber: https://www.theguardian.com/world/2020/mar/25/coronavirus-vaccine-when-will-it-be-ready-trials-cure-immunisation

[3] Hannah Hoag, “Study Revives Bird Origin for 1918 Flu Pandemic”, sumber: https://www.nature.com/news/study-revives-bird-origin-for-1918-flu-pandemic-1.14723

[4] Rob Wallace, Big Farms Make Big Flu: Dispatches on Infectious Disease, Agribusiness, and the Nature of Science (New York: Monthly Review Press, 2016).

[5] Rachel Carson, Silent Spring (Boston: Houghton Mifflin, 2002)

[6] John Bellamy Foster & Brett Clark, “Marx and Alienated Speciesism,” Monthly Review, Volume 70, Nomor 7 (Desember 2018).

[7] John Bellamy Foster, Marx’s Ecology (New York: Monthly Review Press, 2000).

[8] Frederick Engels, Dialectics of Nature dalam “Collected Works, Vol. 25: Engels: Anti-Dühring, Dialectics of Nature” (New York: International Publisers, 1987).

[9] Lihat Metro TV, “Ayo Berwisata Jangan Takut Corona”, sumber: https://www.metrotvnews.com/play/bw6C5Wxg-ayo-berwisata-jangan-takut-virus-corona

[10] Walaupun data talangan tersebut juga diberikan kepada masyarakat Amerika Serikat sekitar 1.200 USD per bulan bagi keluarga yang pendapatnya kurang dari 75.000 USD/tahun, akan tetapi tujuan utamanya adalah agar mereka tetap konsumtif sehingga resesi berupaya dihindari. Lihat The Guardian, “US Senate Passes Historic $2tn Relief Package as Coronavirus Devastates Economy”, sumber: https://www.theguardian.com/world/2020/mar/25/senate-passes-coronavirus-stimulus-package

[11] David Harvey, “Anti-Capitalist Politics in the Time of COVID-19”, sumber: https://davidharvey.org/2020/03/anti-capitalist-politics-in-the-time-of-covid-19/

[12] The Jakarta Post, “Pandemic could make another 25 million jobless: UN”, sumber: https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/19/pandemic-could-make-another-25-million-jobless-un.html

[13] Karl Marx, Capital, vol. 1 (New York: International Publishers, 1967)

_______________
Arif Novianto
Peneliti Muda di Institute of Governance and Public Affairs (IGPA) – Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Editor di Penerbit Independen (PIN).
Penulis dapat dihubungi di akun twitternya: @arifnovianto_id atau Instagram: @arifnovianto_id

________________________________
Jika
kawan-kawan hendak mengirimkan tulisan untuk dimuat di bukuprogresif.com, silahkan lihat syarat dan ketentuan ini.

Untuk mendapatkan email secara otomatis dari kami jika ada tulisan terbaru di bukuprogresif.com, silahkan masukan email anda di bawah ini dan klik Subscribe/Berlangganan. Setelah itu, kami akan mengirimkan email ke anda dan silahkan buka dan konfirmasi.

Bergabung dengan 157 pelanggan lain

Related posts

Leave a Comment

× Ada yang bisa kami bantu?