Resensi Buku

Antara Kekayaan dan Kemiskinan: Sosialisme dan Perjuangan Mencapai Keadilan

Dari mana asal-usul kepemilikan? dari mana pula asal-usul kekayaan dan kemiskinan? Berbagai pendiskusian telah saya dan kawan saya lakukan untuk menjawab pertanyaan itu. Kepemilikan itu bersifat sementara, lahir dari adanya pengakuan atas “hak milik pribadi”. Kepemilikan di satu sisi bisa terlepas dan pindah ke orang lain, baik karena adanya otoritas kekuasaan yang bersifat memaksa atau dengan mekanisme pasar.

Pernahkah melihat seri kartun Spongebob? Sebuah serial kartun yang paling populer di Nickelodeon yang diciptakan oleh Stephen Hillenburg, seorang animator dan ahli biologi laut. Spongebob  menjadi tokoh kartun yang karena tidak memiliki kepemilikan pribadi, maka harus menjual tenaga kerjanya demi bisa bertahan hidup. Dia harus bekerja sebagai buruh upahan di restoran milik Tuan Krabs. Spongebob dalam beberapa episode digambarkan harus bekerja bahkan sampai 24 jam dengan upah yang tak seberapa. Sementara hasil kerjanya itu menjadi limpahan kekayaan bagi Tuan Krabs. Dari kartun ini dapat dapat dilihat bahwa, relasi hubungan industrial dalam piranti kepemilikan pribadi telah menjadi proses pembagian kerja antara pekerja upahan dengan kapitalis pemilik alat produksi.

relasi hubungan industrial dalam piranti kepemilikan pribadi telah menjadi proses pembagian kerja antara pekerja upahan dengan kapitalis pemilik alat produksi.

Kesenjangan kekayaan dan kemiskinan semakin meningkat saat terjadi revolusi industri pada abad ke 19 yang menghadirkan bentuk kelas baru, yaitu kelas penguasa (borjuis) yang kaya dan kelas pekerja (proletar) atau kaum miskin karena dieksploitasi oleh kelas borjuis. Dari keadaan tersebut, dalam berbagai kasus terjadi perjuangan yang dilakukan oleh kaum tertindas yang menganut paham sosialisme untuk meminta pertanggung jawaban kepada orang kaya atas tindakan eksploitasi yang dilakukan. Kelas tertindas itu berjuang untuk mencapai sosialisme, di mana ada keadilan dan kesetaraan,bahwa semua alat kepemilikan pribadi dikuasai bersama, tidak ada yang dieksploitasi dan mengekspolitasi.

Lenin sang Revolusioner: Sosialisme dan Kaum Tani

Bagi kaum progresif, pasti tak asing lagi mendengar nama Lenin. Vladimir Ilich Lenin adalah seorang tokoh revolusioner yang menjadi salah satu pionir berdirinya Partai Bolshevik dan otak besar dari revolusi Bolshevik (1917).

Sejak masa mudanya , Lenin sangat menggandrungi marxisme dan terlibat dalam gerakan politik yang radikal. Penindasan dan penghisapan kaum kaya terhadap kaum miskin di kalangan rakyat yang terjadi di sekitarnya, telah membuatnya terpantik untuk melakukan perubahan. Lenin membangun analisa teoritis dan praksis untuk mencapai sosialisme.

Salah satu karya penting yang pernah Lenin tulis adalah karya dengan judul Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa (terjemahan bahasa inggris Socialism and Peasant  : To the Rural Poor) yang diterbitkan oleh Tanah Merah Press.

Ketika mendengar istilah “petani”, mungkin kawan-kawan berpandangan bahwa petani itu semuanya melarat dan ditindas oleh orang kaya.  Tidak, itu salah. Lenin menjelaskan dalam bukunya yang berjudul The Development Capitalist In Russia (1895) bahwa masyarakat Rusia telah menjadi masyarakat kapitalis. Telah terdapat struktur kelas di sektor agraria yang meliputi petani kaya (tuan tanah), petani menengah, petani kecil dan buruh tani. Pada perkembangannya menciptakan bentuk baru, yaitu petani kaya karena banyak mengeksploitasi petani miskin maka mereka kemudian bertransformasi menjadi borjuis di perdesaan.

Tuan tanah tentu mempunyai banyak tanah yang luas, dan di tanah tersebut mereka mempekerjakan buruh upahan dari kaum petani kecil dan buruh tani. Upah yang tidak seberapa, membuat hasil kerja petani kecil dan buruh tani ini hanya cukup untup makan, bahkan dalam situasi tertentu mereka harus makan seadanya. Tetapi Petani kecil tidak mengetahui apa penyebab mereka mengalami kesengsaraan dan bagaimana membebaskan diri dari kesengsaraan itu?

Lenin menjelaskan dalam bukunya “Sosialisme, Petani & Kaum Miskin Desa” bahwa eksploitasi yang dilakukan oleh petani kaya dan tuan tanah yang menciptakan kesengsaraan itu. Sehingga kaum petani kecil dan buruh tani harus bersatu dengan kaum buruh di perkotaan yang sama-sama tereksploitasi untuk berjuang mencapai kehidupan yang layak.

Lantas di mana posisi kelas menengah di sektor agraria? wujud kehadiran petani kelas menengah cukup ambigu.  Mereka ragu kemana untuk berpihak pada kaum kaya ataukah ke buruh dan kaum melarat tak berpunya. Kaum kaya mengatakan kepada petani menengah “ikutlah aku, maka kau akan mendapatkan sebuah imbalan berupa kekayaan”. Namun kaum miskin desa mengharapkan petani menengah bergabung untuk membangun persatuan buruh desa dan buruh kota demi kebebasan yang dicapai atas dasar sosialisme. Jelas apa yang dimimpikan oleh kaum sosial demokrat adalah mereka harus bersatu untuk perjuangan kelas.

Apa itu perjuangan kelas? Merupakan puncak perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya hak, ditindas ,dipaksa untuk bekerja keras melayani kaum penghisap. Juga perjuangan kaum buruh upahan melawan para borjuasi. Karena kehendak tersebut untuk mewujudkan revolusi tersebut  agar terdapat susunan masyarakat yang adil , tidak ada yang dieksploitasi ,maupun yang mengeskploitasi, tidak ada golongan kaya dan miskin. Semua harus menikmati kepemilikan dan mendapatkan kesetaraan.

Kaum buruh pernah berkata : “Cukuplah bagi kami jutaan rakyat pekerja untuk membungkukkan punggung kami! Cukuplah bagi kami untuk bekerja demi keuntungan orang-orang kaya, sementara kami tetap miskin! Cukuplah bagi kami membiarkan mereka merampok kami! kami hendak bersatu dalam sarikat buruh, mempersatukan semua kaum buruh dalam satu sarikat kaum buruh yang bersama- sama memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.”(Lenin, 2018).

Cukuplah bagi kami jutaan rakyat pekerja untuk membungkukkan punggung kami! Cukuplah bagi kami untuk bekerja demi keuntungan orang-orang kaya, sementara kami tetap miskin!

Apa kata buruh di atas? Ya dikarenakan berbagai bentuk eksploitasi kaum kaya terhadap kaum miskin, dalam pekerjaan telah menjadikan posisi tenaga kerja buruh tani, petani kecil sebagai kelas yang tertindas dan miskin penuh kelaparan. Memikirkan hal ini akan mendorong munculnya gagasan persatuan dari kaum sosial demokrat yang menentang segala bentuk eksploitasi atau pemerasan seseorang oleh orang lain. Atas dasar bahwasannya kaum sosial demokrat mengancam kekuasaan kaum borjuiasi, maka berbagai macam cara politik-propaganda pun dilakukan demi mengabadikan kekuasaannya.

Karena itu bersatulah  kaum buruh menjadi satu sarikat buruh, mari bersama berjuang demi revolusi dan mewujudkan perjuangan perlawanan terhadap kaum borjuis agar melanggengkan kebebasan tanpa adanya kekuasan yang eksploitasi merugikan kelas bawah demi menggapai Ideologi Sosialisme.

Seperti kata Soekarno, bahwa tanpa mempraktekan samenbudeling van alle revolutionare krachten untuk digempurkan kepada imperialisme dan kapitalisme, djanganlah ada harapan perdjoangan bisa menang!

________________

Thomas Samoth
Mahasiswa di Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jember.
Saat ini sedang berjuang menyelesaikan Skripsinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Appignanesi, Richard, Oscar Zarate. 2003. Lenin untuk Pemula. Yogyakarta : Resist Book

Lenin, Vladimir. 2018 .  Imperialisme : Tahap tertinggi perkembangan kapitalisme.  Yogyakarta : Tanah Merah Press

Lenin, Vladimir. 2018. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa. Yogyakarta : Tanah Merah Press

Santoso, Sayid Nur. 2015. Sejarah Ideologi Dunia. Yogyakarta :Lentera Kreasindo.

Sundoro, Hadi. 2007. Sejarah Peradaban Barat Abad modern. Jember: Jember University Press

Related posts

Leave a Comment