Puisi

PUISI: Jeritan Perempuan yang Melawan

(1)
Pernahkah sejenak kau berdiam diri,
Memandang lekat diri,
Menelisik setiap bagian dari dirimu, yang kelihatan dan tak terlihat secara teliti?
.
Bagaimana cara menata rambutmu, sudahkah sesuai keinginanmu?
Pakaian yang kau kenakan, sudahkah nyaman untukmu?
Riasan wajah yang menempel di permukaan kulitmu, apa benar yang kau sukai?
Sepatu yang kau kenakan, tidak menyakiti kakimu? Kau menyukainya dan membutuhkannya?
Pekerjaanmu saat ini, benarkah panggilan dari hatimu dan kau menikmatinya? Atau setiap hari kau sesungguhnya tersiksa bukan main, seperti mayat hidup di tempat kerja, tapi “mau bagaimana lagi”?.
Caramu bertutur kata, melangkah, bertindak, apa memang benar bentuk dari olahan jiwamu?
Atau sesungguhnya ada yang menjerit dalam diam, menangis tanpa selalu meneteskan bulir bening di sudut mata, meronta dengan sisa asa; melawan kekukuhan yang melekat – dilekatkan pada diri?
.
Jangan-jangan benar, kita dikonstruksi
Jangan-jangan benar, kita dituntut oleh penghakiman dari masyarakat, adat istiadat, stigma-stigma sepanjang usia,
Menjadi merdeka, berdaulat atas diri sendiri, hanyakah sebuah mimpi indah di siang bolong untukku, untuk kaumku?
Tapi kita harus melawan ketidakadilan ini,
Tidak bisa tidak!
05 Desember 2018
.
(2)
Perempuan Penjaga Api
.
Di mana-mana ku lihat perempuan menangis
Di mana-mana ku dengar jerit pilu mereka
Di mana-mana ku saksikan mereka tertatih, terseok-seok bertahan mengarungi badai hidup
Di mana-mana ku dengar kisah mereka, yang berjuang keluar dari sekat-sekat yang membelenggu hidupnya
.
Sungguh makhluk yang menakjubkan!
Meski hatinya hancur ribuan kali
Raganya menahan sakit tak terperi
Namun ia tetap berjuang, berdiri,
.
Walau tak jarang mesti merangkak demi meraih mimpi yang ia yakini
Dan kehidupan yang lebih baik bagi pemegang tampuk kehidupan berikutnya.
Sungguh, para pejuang sejati.
Hormat untuk setiap mereka, perempuan-perempuan yang apinya tetap terjaga,
Yang terus berjuang menjadi manusia sebaik-baiknya demi asa yang mereka pelihara.
.
.
(3)
Yang Melayani, Yang Ditundukan
.
Waktu terus bergulir
Delayed bagai berabad-abad lamanya akhirnya terlewati
Di atas capung besi, perempuan-perempuan itu tersenyum ramah
Menyapa setiap mereka yang masuk ke tubuh capung yang disinari oleh sang surya yang sedang berbinar
.
Sibuk meminta maaf akan keterlambatan dari jadwal sebelumnya, dengan keringat yang mengalir deras di dahi-dahi mereka
Siang menuju sore itu sang surya tengah bersemangat menggebu-gebu.
.
Bulir-bulir yang terus mengalir vertikal karena gravitasi ternyata tidak menyurutkan semangat dan lengkungan di bibir mereka.
Bergerak mondar-mandir melayani para ‘tamu’ perut sang capung besi dengan penuh kesabaran adalah kewajiban.
Tak ayal seperti setrika hidup, mereka sibuk memberikan pelayanan terbaiknya.
.
Alih-alih umpan balik yang bersahabat dari para tamu di perut capung besi yang siap membelah awan itu,
Yang ada justru tindakan sengaja dari para tamu laki-laki,
Yang dengan sadar membuat perempuan-perempuan itu berulang kali mendatangi mereka.
Hal remeh-temeh menjadi luar biasa.
Semata demi kepuasan nafsu dari bola mata yang diekori dengan komentar atas tubuh perempuan yang mau tidak mau harus melayani trik murahan mereka.
.
Ya! Seberlalunya perempuan itu, mereka asik mengobrolkan dan menjadikan bahan lelucon tubuh perempuan yang satu dengan yang lainnya.
Dari rambut, lekukan-lekukan tubuh, hingga ujung kaki tak luput dari sapuan pandangan dan komentar mereka.
Tidak jarang cekikan menutup diskusi mereka.
.
Ironi!
Tubuh perempuan, tubuh siapapun itu, bukan bahan lelucon buat siapapun.
Bukan bahan pelampiasan nafsu rendahan.
Dan bukan bahan perbandingan dan perlombaan, karena tubuh bukan arena kompetisi.
.
Sayangnya dimana-mana perempuan terpuruk dalam ketidakberdayaannya.
Tidak punya kemampuan untuk melawan,
Resiko kerja! Resiko kerja!
Siap bekerja, harus siap menerima resikonya, begitu persepsi kebanyakan orang.
.
Tapi apa mesti dibiarkan, dianggap hal biasa sehingga membudaya?
Penerbangan ini menyadarkanku,
Perempuan dimana-mana masih belum dihargai setara dengan laki-laki.
Bahkan ia pun tak punya otoritas untuk tubuhnya.
.
Sudah diam sekian lama.
Apa harus tetap tunduk dan diam?
06 Desember 2018